Hari ini, Tuhan masih memberiku kesempatan. Bernapas, menghirup oksigen alami yang jika dikomparasikan ke dalam mata uang sudah menghabiskan jutaan rupiah dalam 21 tahun terakhir. Aku masih diberi kesempatan untuk melihat hijaunya dedaunan, indahnya bunga, ramainya jalanan, mendengar kicauan burung, hangatnya sinar matahari pagi yang sangat baik bagi tubuh, dan lain-lain yang tidak akan habis disebutkan.
Hidup adalah tentang bagaimana kita mensyukuri apa yang telah ditakdirkan untuk kita dalam setiap detik, dalam setiap hembusan napas.
Banyak kisah yang telah dialami selama lebih dari satu per lima abad terakhir. Tentang cinta kasih, kompleksitas kehidupan, yang pada akhirnya membawa kepada suatu proses bernama pendewasaan.
Dua puluh satu tahun, bukan mudah untuk melalui setiap detiknya. Di titik ini aku sampai pada dua pertanyaan: Siapa aku? Mau apa? Pertanyaan yang sepertinya mudah, namun ternyata sukar untuk dijawab --kecuali jika dijawab dengan asal. Jawaban itu menjadi sulit jika kita begitu berpikir dengan mengilas balik apa yang telah kita lalui dan lakukan selama kita bernapas.
Kau tahu, mata pun pejam saat kau tidur; kaki pun diam saat kau duduk atau berbaring; mulut pun bungkam saat kau berhenti bicara.
Ragamu diam saat kau mengendalikannya untuk diam.
Tapi tidak dengan napas. Ia terus bekerja sepanjang kau hidup, sepanjang jiwamu masih melekat dalam sesuatu yang disebut raga.
Jiwa dan raga. Kita tidak pernah tahu, bila jiwa itu akan pergi meninggalkan raganya. Kita tidak pernah tahu, bila Tuhan menghendaki kita harus pulang.
Banyak manusia yang sadar bahwa dunia ini fana, hanya tempat singgah yang bukan sungguh. Tapi kita lebih banyak lupa sehingga hanya sekadar mengetahui bahwa kita akan pulang, tapi tidak sadar bahwa untuk kembali kepada Tuhan ada jalan yang harus kita lalui, ada harga yang harus kita bayar.
Maka renungkanlah setiap detik, setiap hembusan napas yang berharga ini, sebelum Tuhan bilang: sudah saatnya kamu pulang.
Juni bagiku bukan semata-mata bulan dalam tahun
Dan 2021 bagiku bukan semata-mata tahun dalam kalender Masehi
Seperti dua angka terakhir dalam tahun itu,
Selama itulah aku telah hidup, dalam lebih dari satu per lima abad terakhir
--ysk, 26 Juni 2021
No comments:
Post a Comment