Search This Blog

Saturday, June 26, 2021

KILAS BALIK 21 TAHUN

Hari ini, Tuhan masih memberiku kesempatan. Bernapas, menghirup oksigen alami yang jika dikomparasikan ke dalam mata uang sudah menghabiskan jutaan rupiah dalam 21 tahun terakhir. Aku masih diberi kesempatan untuk melihat hijaunya dedaunan, indahnya bunga, ramainya jalanan, mendengar kicauan burung, hangatnya sinar matahari pagi yang sangat baik bagi tubuh, dan lain-lain yang tidak akan habis disebutkan. 

Hidup adalah tentang bagaimana kita mensyukuri apa yang telah ditakdirkan untuk kita dalam setiap detik, dalam setiap hembusan napas.

Banyak kisah yang telah dialami selama lebih dari satu per lima abad terakhir. Tentang cinta kasih, kompleksitas kehidupan, yang pada akhirnya membawa kepada suatu proses bernama pendewasaan.

Dua puluh satu tahun, bukan mudah untuk melalui setiap detiknya. Di titik ini aku sampai pada dua pertanyaan: Siapa aku? Mau apa? Pertanyaan yang sepertinya mudah, namun ternyata sukar untuk dijawab --kecuali jika dijawab dengan asal. Jawaban itu menjadi sulit jika kita begitu berpikir dengan mengilas balik apa yang telah kita lalui dan lakukan selama kita bernapas. 

Kau tahu, mata pun pejam saat kau tidur; kaki pun diam saat kau duduk atau berbaring; mulut pun bungkam saat kau berhenti bicara.


Ragamu diam saat kau mengendalikannya untuk diam.


Tapi tidak dengan napas. Ia terus bekerja sepanjang kau hidup, sepanjang jiwamu masih melekat dalam sesuatu yang disebut raga. 


Jiwa dan raga. Kita tidak pernah tahu, bila jiwa itu akan pergi meninggalkan raganya. Kita tidak pernah tahu, bila Tuhan menghendaki kita harus pulang.


Banyak manusia yang sadar bahwa dunia ini fana, hanya tempat singgah yang bukan sungguh. Tapi kita lebih banyak lupa sehingga hanya sekadar mengetahui bahwa kita akan pulang, tapi tidak sadar bahwa untuk kembali kepada Tuhan ada jalan yang harus kita lalui, ada harga yang harus kita bayar. 


Maka renungkanlah setiap detik, setiap hembusan napas yang berharga ini, sebelum Tuhan bilang: sudah saatnya kamu pulang.



Juni bagiku bukan semata-mata bulan dalam tahun

Dan 2021 bagiku bukan semata-mata tahun dalam kalender Masehi

Seperti dua angka terakhir dalam tahun itu, 

Selama itulah aku telah hidup, dalam lebih dari satu per lima abad terakhir

--ysk, 26 Juni 2021

Friday, June 25, 2021

“Ngalis”: Konsep Cantik Era Sekarang

Konsep Cantik
    Perempuan secara lahiriah mempunyai keinginan untuk tampil cantik. Banyak perempuan yang rela menghabiskan banyak uang untuk mendapatkan kecantikan yang diinginkan, yang dianggap ideal. Konsep cantik yang selama ini dipahami masyarakat awam adalah berkulit putih, berwajah mulus, tinggi semampai, langsing, berhidung mancung, dan beralis rapi. Konsep ini menunjukkan bahwa konsep cantik yang dipahami oleh masyarakat awam mengacu pada bentuk fisik.
    Pemahaman masyarakat tentang konsep cantik seperti yang disebutkan di atas mengikuti konsep cantik perempuan-perempuan luar negeri yang memang memiliki ciri-ciri seperti itu. Contohnya adalah perempuan-perempuan asal Korea dan Jepang. Perempuan asal dua negara tersebut mempunyai ciri genetik yang khas, yaitu berkulit putih, bertubuh langsing, hidung mancung, tinggi semampai, bentukan alis yang rapi, dan kulit mulus. Ciri-ciri tersebut bukan merupakan murni perawatan semata, melainkan ada faktor genetik dan faktor lain yang menyebabkan karakteristik mereka seperti itu. 
    Perbedaan warna kulit dipengaruhi oleh berbagai faktor. Selain faktor genetik, juga dipengaruhi oleh faktor iklim yang ada di suatu negara. Indonesia yang beriklim tropis menyebabkan warna kulit yang cenderung lebih gelap. Hal ini karena di daerah tropis kulit memproduksi melanin lebih banyak, sehingga warna atau pigmen yang dihasilkan lebih gelap. Sementara itu, negara Jepang dan Korea adalah negara yang beriklim subtropis. Iklim subtropis menyebabkan warna kulit penduduknya lebih terang, karena tidak mendapat paparan sinar matahari (ultraviolet) sebanyak daerah yang beriklim tropis.
    Perempuan Indonesia sebetulnya memiliki standar kecantikan dengan ciri khas tersendiri, yaitu ciri khas kecantikan wanita Indonesia, ciri khas perempuan iklim tropis. Warna kulit sawo matang sering disebut sebagai ciri khas kulit bangsa Indonesia yang menjadikannya memiliki karakter hitam manis. Selain itu, tinggi yang dimiliki oleh orang Indonesia juga beragam. Sebetulnya, standardisasi kecantikan itu tidak bisa mengikuti standar kecantikan yang tidak dimiliki oleh negara kita sendiri, karena setiap negara atau wilayah memiliki karakteristiknya masing-masing dengan berbagai faktor yang melatarbelakanginya. Dengan kata lain, konsep cantik ini merupakan pandangan yang subjektif dan relatif --bergantung dari kacamata mana kita memandang. 
    Konsep cantik merupakan budaya populer yang terus berkembang dengan cepat di Indonesia. Berkembangnya budaya populer yang cepat ini merupakan salah satu dampak dari globalisasi. Arus globalisasi memberikan akses yang cepat ke seluruh penjuru dunia, sehingga satu tren gaya hidup saja dapat menyebar ke seluruh dunia hanya dalam hitungan detik. Salah satu negara yang berpengaruh terhadap perkembangan gaya/mode atau fashion Indonesia adalah Korea. Salah satu hal yang menjadi kiblat Indonesia dalam hal ini adalah tentang konsep cantik. 
    Berbagai iklan di televisi banyak yang menggunakan artis-artis Korea sebagai brand ambassador. Selain Korea, artis Amerika dan Jepang juga banyak yang menjadi brand ambassador. Brand ambassador adalah orang yang menjadi bintang iklan atau duta merek untuk mempromosikan sebuah produk atau jasa. Adapun produk atau jasa yang biasa dipromosikan adalah yang berkaitan dengan kecantikan, seperti produk kosmetik Laneige yang dipromosikan oleh Kim Yoo Jung, wanita asal Korea; produk skin care Shinzui yang dipromosikan oleh wanita asal Jepang; dan produk pensil alis dari Maybelline yang dipromosikan oleh Gigi Hadid, seorang wanita asal California, Amerika. 
    Brand ambassador untuk produk-produk kecantikan biasanya adalah artis-artis yang memiliki paras yang ‘cantik’ seperti Korea, Jepang, dan Amerika. Konsep ‘cantik’ ini mengacu pada fisik, yaitu melihat kecantikan dari paras semata. Paras cantik yang dimiliki wanita Korea, Jepang, dan Amerika ini dijadikan kiblat atau standar kecantikan wanita Indonesia. Hal ini dapat kita lihat dari produk kosmetik yang paling laku dipasaran. Produk yang paling dicari oleh konsumen adalah produk untuk mencerahkan kulit. Padahal sebanyak 59 % responden menjawab masalah utamanya adalah jerawat. Ini membuktikan bahwa konsep cantik wanita Korea, Jepang, dan Amerika telah menjadi kiblat kecantikan wanita di Indonesia. 

Tren Gaya Alis 
    Salah satu bagian wajah yang banyak mendapat sorotan perempuan sebagai standar kecantikan adalah alis. Tren gaya alis sudah ada sejak tahun 1920-an. Perkembangan gaya alis setiap periode ini berbeda-beda. Setiap periode memiliki gaya dengan bentuk alis yang khas yang dipromosikan oleh model-model wanita pada saat itu. Keunikan gaya atau bentuk alis di setiap zaman membuat tren gaya alis ini terus berkembang dari waktu ke waktu. 
    Pada tahun 1920-an, gaya alis yang hits adalah tipis dan menukik. Gaya ini direpresentasikan oleh Clara Bow dan Anna May Wong. Sementara itu, pada tahun 1960-an gaya alis yang hits adalah lurus dan tebal dengan ujung alis dibuat sedikit melengkung dan tipis. Gaya alis pada tahun ini direpresentasikan oleh Audrey Hepburn. Pada tahun 2000-an, gaya alis yang hits adalah sedikit tebal dan lebih natural. Beberapa waktu belakangan ini muncul pula gaya alis terbelah yang menjadi trending. Gaya alis terbelah ini sebetulnya sudah ada sejak tahun 1990-an. Namun, kini kembali trending diawali oleh bintang K-Pop yang beredar di media sosial. Berbagai tren gaya alis di atas banyak diikuti wanita Indonesia. Tren gaya alis yang telah dijelaskan di atas merupakan sebuah fenomena budaya populer atau budaya massa. Budaya populer adalah budaya yang terus-menerus diproduksi dan dikonsumsi secara massal. Kembali lagi pada persoalan alis, lalu bagaimana alis ini menjadi standar kecantikan perempuan Indonesia? 

“Ngalis”: Konsep Cantik Era Sekarang 
    Kegiatan membentuk alis dengan pensil alis agar sesuai dengan bentuk yang diinginkan disebut “ngalis”. “Ngalis” adalah bahasa populer yang digunakan oleh perempuan ketika berbicara mengenai pembentukan alis. Kegiatan ini kemudian menjadi budaya populer yang beredar di kalangan perempuan. Budaya “ngalis” mengarah pada mode atau fashion yang ditunjukkan oleh perempuan melalui bentukan alisnya sesuai dengan karakter alis masing-masing. Dewasa ini telah banyak pola alis yang bermacam-macam. Selain itu juga banyak video-video tutorial pembentukan alis yang diunggah di media sosial. Hal ini menunjukkan bahwa “ngalis” telah menjadi budaya populer di masyarakat. 
    Fenomena ini banyak ditemui di kalangan perempuan yang berusia antara 18-22 tahun seperti mahasiswa bahkan remaja. Mengapa demikian? Karena perempuan yang usianya berkisar antara 18-22 tahun itu cenderung lebih peduli terhadap penampilan, lebih suka berdandan daripada anak-anak remaja atau orang yang lebih tua. Kita ambil contoh mahasiswa. Sebagian besar mahasiswa memperhatikan bagaimana ia bisa tampil cantik ketika berangkat ke kampus. Contoh lain perempuan non-mahasiswa yang hendak bekerja atau melakukan aktivitas lain juga cenderung lebih aware atau peduli terhadap penampilannya. Dengan kata lain, “ngalis” merupakan suatu bentuk pencitraan yang dilakukan oleh perempuan untuk menunjukkan identitas dirinya. Adapun identitas yang hendak dibangun oleh perempuan yang suka “ngalis” tersebut adalah identitas ‘cantik’ --bahwa dirinya ingin diakui cantik oleh orang lain karena alis yang dibuatnya. 
    Identitas yang hendak dibangun perempuan melalui budaya “ngalis” ini berkaitan dengan citra diri yang ada dalam konsep diri. Konsep diri terdiri dari tiga komponen: (1) citra diri, (2) harga diri, dan (3) standar atau ideal diri. Citra diri adalah gambaran diri yang berkaitan dengan identitas yang ingin diperlihatkan kepada orang lain. Dari citra tersebut kemudian sampai pada keinginan untuk diakui bahwa ‘saya cantik dengan citra yang saya perlihatkan’. Dengan adanya citra diri yang diperlihatkan oleh seorang perempuan, maka akan ada harga diri bagi orang tersebut. Pada akhirnya komponen citra diri tadi akan menjadi standar atau ideal diri bagi orang tersebut. 
    Budaya “ngalis” menjadi kegiatan yang tidak boleh terlewatkan oleh perempuan jika akan pergi ke luar rumah, atau bahkan meskipun hanya berada di rumah. Bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, sebagian wanita begitu memperhatikan kondisi alisnya terutama jika akan pergi ke luar rumah. Adanya budaya “ngalis” yang begitu melekat pada perempuan tidak lain karena perempuan tersebut menganggap bahwa konsep cantik ialah ketika memiliki alis yang bentuknya rapi, sempurna, tebal atau natural, dan berujung lancip. Adanya konsep cantik tersebut membuat para wanita harus berusaha untuk membentuk alisnya agar sesuai dengan yang diinginkan. Banyak perempuan yang melakukan sulam alis dengan biaya yang besar demi mendapatkan bentuk alis yang diinginkan. Ada juga yang melakukannya dengan cara manual, yaitu dengan menggunakan pinset dan mencabut satu per satu bulu alis yang ada di atas mata itu. Ada yang hanya sekadar merapikan, ada juga yang benar-benar ingin merubah bentukannya. Setelah melalui proses sulam atau pencabutan bulu alis itu, selanjutnya adalah menggambar pola alis menggunakan pensil alis sesuai dengan kehendak. Ada yang mengikuti bentuk alis aslinya seperti apa adanya, ada juga yang membentuk pola berbeda. 
    Budaya “ngalis” menjadi salah satu standar kecantikan perempuan pada masa sekarang. Bagi perempuan yang menganut alis sebagai konsep cantik akan merasa tidak percaya diri jika belum “ngalis”. Mereka yakin bahwa setelah “ngalis” mereka menjadi lebih cantik sehingga memunculkan rasa percaya diri yang lebih daripada jika tidak “ngalis”. Dengan kata lain, jika belum “ngalis” itu belum afdol rasanya -ada sesuatu yang kurang. Dalam hal ini, berarti “ngalis” telah menjadi salah satu motivasi bagi perempuan untuk meningkatkan rasa percaya diri dari aspek kecantikan. 
    Ingin tampil cantik di hadapan orang lain merupakan fitrahnya perempuan. Itu adalah karakter khas perempuan yang lumrah. Kita harus maklum jika perempuan selalu membutuhkan waktu yang lama jika sedang bersiap-siap, karena persiapan yang dilakukan perempuan bukan sekadar mandi dan berganti pakaian seperti laki-laki, tetapi juga harus berdandan. Salah satu kegiatan yang menyita banyak waktu adalah “ngalis”. “Ngalis” akan lebih mudah dan cepat selesai apabila orang tersebut sudah terbiasa dengan cara membentuk alis. Sementara bagi yang belum terbiasa, “ngalis” akan menjadi proses yang lama, karena harus menyamakan posisi dan ukuran antara alis kiri dan kanan. Belum lagi penggunaan pensil alis yang belum mahir, bisa jadi membuat alis tebal sebelah sehingga harus dibuat ulang.
    “Ngalis” bukan sekadar fenomena budaya populer sebagai standardisasi kecantikan perempuan. Di dalamnya juga berkaitan dengan konsep diri yang terdiri atas citra diri dan harga diri. Aktivitas “ngalis” yang dilakukan perempuan merupakan sebuah cara untuk menumbuhkan rasa percaya diri terhadap penampilan. Dalam aktivitas tersebut tersirat makna identitas yang ingin dibangun atau diperlihatkan. Pada akhirnya, oleh beberapa perempuan yang suka “ngalis”, hasil dari aktivitas itu dijadikan sebagai konsep cantik menurut versi mereka masing-masing.


"Sejatinya, kecantikan itu tidak dapat diukur melalui takaran yang saklek. Setiap individu memiliki perspektif sendiri mengenai konsep cantik, karena cantik itu subjektif. Tapi yang terpenting adalah bukan soal yang suka "ngalis" dan yang tidak suka "ngalis". Perempuan yang tidak "ngalis" pun bisa tetap cantik. Karena konsep cantik yang sesungguhnya itu bukan pada sesuatu yang tampak, tapi bagaimana seorang perempuan dapat menjadi dirinya sendiri, dan bukan sekadar meniru gaya orang lain."

Sunday, March 24, 2019

Dewa, Sang Pangeran Putih Abu-abu


             Sang Pangeran Putih Abu-abu

Novel High School Prince adalah novel yang menceritakan kisah seorang pria bernama Dewa. Kehidupan Dewa dan persoalan percintaan yang dihadapinya. Novel ini ditulis oleh Zachira dan di terbitkan pada tahun 2012 oleh Zettu. Novel ini mendapatkan respon positif dari pembacanya yang ditulis pada situs web goodreads. Respon positif yang diberikan dilatarbelakangi oleh sosok Dewa yang diceritakan penulis begitu kerennya.

"... betapa gantengnya Dewandana, sang ketua OSIS sekaligus kapten tim Voli Putra ..."

Sosok Dewa yang menjadi tokoh utama dalam novel High School Prince ini adalah seorang remaja laki-laki yang nyaris sempurna. Kesempurnaan yang ia miliki membuat banyak gadis di sekolahnya menaksirnya.

"Dewa ini, ... dia tipe cowok yang membuat kami siswa perempuan rela meninggalkan cowok-cowok kita seandainya Dewa mau mengajak kita jalan satu hari saja."

Begitu sempurnanya Dewa hingga membuat siswi di sekolahnya tergila-gila.  Eitsss, kesempurnaan di sini bukan berarti sama dengan Sang Pencipta ya. Kesempurnaan yang dimaksud dalam novel ini adalah seorang manusia yang memiliki ketampanan luar biasa. Selain itu, skill basket dan voli yang dimiliki oleh Dewa membuat para gadis di sekolahnya semakin terpesona. Postur tubuh yang ideal dan keaktifannya dalam organisasi OSIS membuat pria ini memiliki nilai plus dibandingkan dengan pria lainnya di sekolahnya.

Dewa berasal dari keluarga berada. Ayahnya adalah seorang jaksa. Dengan demikian, kebutuhan Dewa terjamin secara materil. Namun, keadaan yang dimilikinya tidak membuat dirinya menjadi sombong. Inilah yang harus dijadikan contoh untuk kita semua. Bahkan ketika Dewa sedang ditimpa musibah dan masalah percintaan pun dia tetap sabar dan menjalani semuanya dengan tetap stay cool. Sungguh mengesankan bukan, seorang pria yang tampan, memiliki harta berlimpah, skill yang memadai, aktif, dan berprestasi tetapi tetap rendah hati? Kriteria yang dimiliki oleh Dewa adalah kriteria yang banyak dicari oleh para wanita.

Apapun yang kita miliki hendaknya jangan membuat kita menjadi sombong, tetapi harus menjadikan diri kita lebih bersyukur lagi. Seperti tokoh Dewa yang diceritakan Zachira dengan segala kelebihan yang dimilikinya. Sabar dalam menjalani segala persoalan hidup yang dihadapi adalah nilai yang dicontohkan Dewa dalam novel ini. Cerita cinta SMA yang dialami Dewa pun menjadi cerita yang tidak terlupakan.


KILAS BALIK 21 TAHUN

Hari ini, Tuhan masih memberiku kesempatan. Bernapas, menghirup oksigen alami yang jika dikomparasikan ke dalam mata uang sudah menghabiskan...